TEROPONGNUSA.COM – Tidak semua perjalanan menawarkan kenyamanan. Ada kalanya sebuah rute justru menghadirkan tantangan yang membuat setiap kilometer terasa berkesan. Itulah yang akan dirasakan ketika melintasi jalur tembus Kabupaten Madiun menuju Kabupaten Ponorogo melalui Kecamatan Kare dan Kecamatan Ngebel.
Jalur alternatif yang membelah lereng pegunungan ini menjadi favorit para penghobi touring karena menyuguhkan sensasi berkendara yang benar-benar menguji nyali sekaligus keterampilan.
Perjalanan dari arah Kecamatan Kare sebenarnya diawali dengan jalan beraspal yang relatif nyaman. Pepohonan rindang dan udara pegunungan menemani setiap tikungan. Namun suasana berubah ketika mendekati kawasan perbatasan Madiun–Ponorogo.
Aspal perlahan berganti dengan hamparan jalan makadam. Bebatuan berukuran kecil hingga sedang memenuhi badan jalan. Permukaan yang tidak rata membuat roda kendaraan terus berguncang, sementara tanjakan mulai terasa semakin curam. Pengendara tidak bisa sekadar memutar gas, tetapi harus pandai mengatur putaran mesin, keseimbangan kendaraan, dan memilih jalur terbaik di antara bebatuan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pengendara sepeda motor. Sedikit saja kehilangan momentum, kendaraan bisa kehilangan traksi saat roda menghantam batu-batu lepas. Apalagi ketika musim hujan, permukaan jalan menjadi lebih licin sehingga risiko tergelincir meningkat.
Sebelum memasuki medan yang lebih berat, pelintas biasanya memanfaatkan Rest Area Kali Catur di Kecamatan Kare untuk beristirahat. Beberapa warung sederhana menyediakan makanan dan minuman hangat. Di sampingnya mengalir Kali Catur dengan air yang jernih, menghadirkan suasana sejuk yang kontras dengan tantangan perjalanan yang akan dihadapi.
Selepas Rest Area Kali Catur, jalur mulai menunjukkan karakter aslinya. Tikungan-tikungan sempit berpadu dengan tanjakan panjang menuju kawasan perbatasan. Sesampainya di tugu batas Kabupaten Madiun dan Kabupaten Ponorogo, terdapat warung kopi sederhana yang sering menjadi tempat singgah para pengendara. Banyak yang memilih berhenti sejenak untuk mendinginkan mesin kendaraan sekaligus mengumpulkan tenaga sebelum menaklukkan tanjakan berikutnya.
Sebab, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah memasuki wilayah Desa Pupus, Kecamatan Ngebel.
Jalan berbatu dengan kemiringan yang cukup ekstrem memaksa pengendara bekerja ekstra. Mesin kendaraan harus terus dijaga pada putaran yang stabil agar tidak kehilangan tenaga saat menanjak. Pada beberapa titik, batu-batu lepas membuat roda mudah selip jika pengendara terlalu agresif membuka gas.
“Selama berada di jalur tanjakan ini saya memakai gigi satu,” ujar Rubi, penghobi touring sepeda motor yang telah beberapa kali melintasi jalur tersebut.
Menurutnya, penggunaan gigi rendah sangat membantu menjaga torsi kendaraan saat menghadapi tanjakan panjang dengan permukaan jalan yang tidak rata. Konsentrasi juga tidak boleh terpecah karena hampir seluruh lintasan membutuhkan teknik berkendara yang tepat.
Meski ekstrem, jalur ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencinta adventure. Getaran motor saat menghantam bebatuan, suara mesin yang meraung menaklukkan tanjakan, hingga udara pegunungan yang sejuk menghadirkan sensasi yang sulit ditemukan di jalan raya biasa.
Perjuangan itu akhirnya berakhir ketika memasuki pusat Desa Pupus. Jalan kembali mulus dengan lapisan aspal yang nyaman dilalui. Deretan pohon pinus dan pepohonan hutan menyambut para pelintas, seolah menjadi hadiah setelah berhasil melewati rute yang menguras tenaga dan konsentrasi.
Tidak lama kemudian, hamparan Telaga Ngebel mulai terlihat. Pemandangan air telaga yang tenang dengan latar perbukitan hijau seakan menghapus rasa lelah sepanjang perjalanan. Bagi para penghobi touring, jalur tembus Kare–Ngebel bukan hanya sekadar akses penghubung antara Kabupaten Madiun dan Kabupaten Ponorogo, tetapi juga lintasan petualangan yang menghadirkan perpaduan sempurna antara tantangan ekstrem dan keindahan alam pegunungan.(Red)

