MAGETAN, TEROPONGNUSA.COM – Berdiri kokoh di Desa Tamanarum, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Masjid At-Taqwa menyimpan cerita panjang sejak didirikan pada tahun 1840 oleh Mbah Imam Nawawi, seorang prajurit Pangeran Diponegoro. Masjid yang unik karena dibangun sebagian besar berkonstruksi dari kayu jati dan tanpa menggunakan paku ini telah menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan kehidupan masyarakat sekitar.
Pemugaran yang dilakukan sekali itu semakin menegaskan komitmen masyarakat untuk melestarikan masjid ini sebagai peninggalan bersejarah.

Masjid At-Taqwa tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol kekuatan, ketahanan, dan kearifan lokal yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah arus modernisasi, masjid ini tetap berdiri sebagai mercusuar spiritual yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga warisan leluhur.
Imam Masjid, Ahmad Sholikin, mengungkapkan bahwa masjid ini juga menyimpan kitab fiqih tulisan tangan Mbah Imam Nawawi, yang menjadi bukti keilmuan dan dedikasi beliau dalam mengembangkan Islam.
“Selain bangunan masjid ini, juga terdapat peninggalan berupa kitab fiqih tulisan tangan Mbah Imam Nawawi sendiri,” kata Ahmad Sholikin, Selasa (4/6/2024).

Ia menambahkan, masjid ini bisa menampung kurang lebih 150 jamaah. Dan ketika bulan Ramadhan sering digunakan untuk iktiqaf, baik dari jamah dari dalam maupun luar daerah.
“Pas sepuluh hari terakhir Ramadhan juga ada orang luar daerah iktiqaf di sini,” ujarnya.
Sementara terkait bangunan kolam di samping masjid, dulu digunakan wudhu oleh jamaah. Namun, seiring berjalannya waktu, kolam tersebut telah digantikan dengan fasilitas air kran yang lebih modern di samping depan masjid. Perubahan ini mencerminkan adaptasi masjid terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai historis yang melekat padanya.
Tak hanya itu, sejalan dengan masjid juga terdapat bedug tua yang kayunya masih asli dan terus digunakan hingga sekarang.
Di sini, anak-anak belajar mengaji, remaja belajar tentang nilai-nilai kehidupan, dan orang tua berkumpul untuk berdiskusi tentang berbagai hal. Masjid ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sekitar, menjadi tempat yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Saat adzan berkumandang, suaranya yang merdu terdengar melintasi lorong-lorong waktu, mengajak siapa saja yang mendengarnya untuk berhenti sejenak dan merenung. Masjid tua ini, dengan segala keanggunan dan kerendahan hatinya, terus mengingatkan kita pada kebesaran Allah SWT dan pentingnya menjaga warisan yang telah diberikan kepada kita. Masjid ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga simbol dari kekuatan iman yang tidak pernah pudar meskipun di tengah perubahan zaman.(DNY)

