30.2 C
Madiun
Rabu, April 22, 2026

Meneladani Jejak Perjuangan Dakwah Kiai Ageng Basyariyah : Sebuah Pergerakan Sosial yang Menginspirasi

Oleh : Gus Imam (Pemerhati Sejarah, Anggota Paguyuban Trah Panembahan Senopati Kota Gede Jogjakarta) 

TEROPONGNUSA.COM – Kehadiran Kiai Ageng Basyariyah, atau Raden Mas Bagus Harun, dalam sejarah peradaban Islam di Jawa bukan sekadar menambah lapisan spiritualitas dalam hidup umat, melainkan juga merangsang dinamika sosial-politik yang mengubah wajah masyarakat pada zamannya. Lahir di akhir abad ke-17 sebagai keturunan darah biru dari Ki Ageng Prongkot dan Panembahan Senopati, Kiai Basyariyah adalah tokoh yang tidak hanya meneruskan warisan leluhurnya, tetapi juga mengemban tanggung jawab besar untuk merubah kondisi masyarakat melalui dakwah yang menyentuh inti permasalahan sosial. Dalam perjalanan dakwahnya, ia tidak sekadar membangun masjid dan pesantren, tetapi lebih dari itu, ia membangun fondasi kuat yang mendorong pergerakan sosial-politik yang relevan dengan perubahan zaman.

Pendidikan yang diterima Kiai Basyariyah di pondok pesantren Tegalsari, Ponorogo, di bawah bimbingan Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari, membuka cakrawala intelektual yang memperkaya perspektifnya tentang agama dan kehidupan sosial. Dalam prosesnya, ia tumbuh menjadi seorang ulama yang tidak hanya menguasai syariat dan tasawuf, tetapi juga memahami betul pentingnya dakwah sebagai instrumen sosial yang bisa menggerakkan umat menuju perubahan. Bahkan, simpati yang ia peroleh dari sang guru membawa Bagus Harun tidak hanya pada pemahaman agama yang mendalam, tetapi juga pada peran strategis dalam meredakan gejolak sosial-politik yang melanda saat itu, seperti peran serta Kiai Basyariyah dalam konflik Geger Pacinan (1742), yang menggambarkan peran serta dakwah dalam meredakan ketegangan sosial antar kelompok.

Keberhasilannya dalam mengatasi konflik tersebut dan penghindaran tawaran jabatan Adipati di Banten, menunjukkan bahwa Kiai Basyariyah memandang dakwah sebagai suatu tugas suci yang lebih besar daripada ambisi duniawi. Dalam dunia yang terkadang dipenuhi dengan pencarian status dan kekuasaan, pilihan untuk menolak tawaran tersebut menjadi sebuah refleksi yang provokatif, mengajak kita untuk merenung tentang apakah kita, dalam kehidupan modern yang penuh dengan ambisi, masih bisa menempatkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebermanfaatan untuk masyarakat sebagai tujuan utama.

Puncak dari perjalanan dakwah Kiai Basyariyah terjadi ketika ia diberikan amanah untuk meneruskan tugas dakwah dengan mencari payung yang dihanyutkan di Sungai Bang Pluwang, sebuah simbol perintah Tuhan untuk membawa dakwah ke tempat-tempat yang belum terjamah. Penemuan payung di Desa Sewulan, Madiun, menjadi titik tolak penting dalam pendirian masjid dan pesantren yang kelak melahirkan perubahan sosial besar. Dalam konteks yang lebih luas, pondok pesantren yang didirikan bukan hanya sebagai pusat pembelajaran agama, tetapi juga sebagai pusat kebangkitan sosial yang membentuk karakter masyarakat melalui nilai-nilai kemandirian, solidaritas, dan keadilan. Melalui pendidikan yang inklusif dan progresif, Kiai Basyariyah mengajarkan kita bahwa sebuah gerakan sosial yang berkelanjutan dapat dimulai dari usaha kecil yang kemudian berkembang menjadi perubahan besar, yang menggugah kesadaran kolektif dan membangun masyarakat yang lebih adil dan merata.

Pondok pesantren yang tersebar di berbagai daerah, seperti Blitar dan Jombang, membuktikan bahwa dakwah Kiai Basyariyah lebih dari sekadar ajaran agama; ia adalah pendorong perubahan sosial yang menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Mendirikan pesantren adalah pilihan yang jauh melampaui sekadar kebutuhan spiritual semata. Pesantren menjadi tempat lahirnya masyarakat yang mandiri, berdaya, dan mampu bertahan menghadapi tantangan zaman, bahkan berperan aktif dalam perubahan sosial politik yang sedang berlangsung. Perjuangan Kiai Basyariyah adalah contoh konkret bagaimana pendidikan dapat menjadi kekuatan yang menggerakkan perubahan sosial, dengan pondasi spiritual sebagai landasan utamanya.

Perjuangan ini adalah panggilan bagi kita untuk melangkah lebih jauh, tidak hanya dalam aspek individu, tetapi juga dalam ranah sosial-politik yang lebih luas. Di tengah dunia yang terus berubah, kita dihadapkan pada tugas besar untuk meneladani keteguhan prinsip yang ditunjukkan Kiai Basyariyah. Dengan mengikuti jejaknya, kita diajak untuk mengarahkan diri pada gerakan perubahan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur, keberlanjutan, dan kemanusiaan. Pendidikan agama yang inklusif dan transformasional, seperti yang diajarkan Kiai Basyariyah, menjadi kunci untuk menciptakan masyarakat yang tidak hanya paham agama tetapi juga memiliki kesadaran sosial yang tajam. Begitu juga dalam menghadapi tantangan zaman, kita harus mencari akar solusi dalam dakwah yang memadukan spiritualitas dan gerakan sosial untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana Kiai Basyariyah menanamkan ajaran Islam di setiap sudut yang ia singgahi, kita pun harus terus bergerak untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan perubahan sosial yang membawa masyarakat kita menuju kehidupan yang lebih beradab.

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru