MAGETAN, TEROPONGNUSA.COM – Inovasi Teknologi (Inotek) berupa pengolahan daun kering menjadi briket yang dikembangkan SMPN 2 Parang kian menunjukkan dampak positif. Tak sekadar mengurangi sampah di lingkungan sekolah, briket hasil olahan siswa tersebut kini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak.
Inovasi ini menjadi bagian dari upaya sekolah menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekaligus mengasah kreativitas mereka. Sampah daun yang sebelumnya hanya menjadi limbah, kini diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Proses pembuatannya pun cukup sederhana. Daun-daun kering yang terkumpul di lingkungan sekolah terlebih dahulu dioven atau dipanaskan selama kurang lebih 20 menit hingga menjadi serbuk. Serbuk tersebut kemudian ditumbuk hingga halus lalu dicampur dengan air secukupnya sebelum dibentuk menjadi briket.
Setelah dikeringkan, briket tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar. Bahkan, hasil inovasi siswa ini telah dimanfaatkan untuk memasak, salah satunya ketika terdapat kegiatan Pramuka di sekolah.
Kepala SMPN 2 Parang, Ninik Setiyani, S.Pd., M.Si., mengatakan inovasi tersebut bermula ketika dirinya melihat banyak daun berjatuhan di lingkungan sekolah, sementara kepedulian siswa terhadap sampah masih perlu ditingkatkan.
“Awalnya saya melihat banyak daun berjatuhan dan anak-anak masih kurang peduli. Dari situ muncul ide bagaimana sampah daun ini bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna,” ujarnya, Rabu (12/8/2026).
Menurut Ninik, pembuatan briket tidak hanya bertujuan menghasilkan bahan bakar alternatif. Lebih dari itu, proses tersebut menjadi media pembelajaran bagi siswa untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mengembangkan kreativitas.
“Intinya inovasi ini untuk menciptakan rasa peduli anak-anak terhadap daun-daun yang ada di sekolah. Anak-anak juga menjadi lebih kreatif dan numerasinya ikut berjalan,” jelasnya.
Pengembangan inovasi tersebut juga tidak berhenti pada pembuatan briket. SMPN 2 Parang mulai mengembangkan hasil olahan menjadi produk lain, seperti dupa atau pengharum ruangan.
Dampak positif inovasi tersebut mendapat perhatian Wakil Bupati Magetan, Suyatni. Pada Rabu (12/8/2026), Wabup datang langsung ke SMPN 2 Parang untuk melihat proses pengolahan daun kering menjadi briket.
Dalam kunjungan tersebut, Wabup tidak hanya melihat proses pembuatannya, tetapi juga berkesempatan menikmati makanan yang dimasak menggunakan bahan bakar briket hasil inovasi siswa.
Menurut Wabup, langkah yang dilakukan SMPN 2 Parang cukup strategis dalam mendukung program penanganan sampah. Edukasi mengenai pengelolaan sampah sejak dini juga dinilai penting untuk membentuk kebiasaan peduli lingkungan pada generasi muda.
Ia berharap inovasi tersebut terus dikembangkan dan diterapkan secara konsisten sehingga tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan sekolah, tetapi juga mampu menjadi inspirasi bagi sekolah lain dan masyarakat di Kabupaten Magetan.
Apa yang dilakukan SMPN 2 Parang menunjukkan bahwa inovasi sederhana bisa memberikan manfaat nyata. Dari daun-daun kering yang sebelumnya dianggap sebagai sampah, siswa belajar mengolahnya menjadi energi alternatif sekaligus mendapatkan pengalaman langsung tentang pentingnya menjaga lingkungan.(DR)

