BOJONEGORO, TEROPONGNUSA.COM – Suasana Balai Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, pada Senin (6/7/2026) terasa berbeda. Puluhan petani jagung dari empat dusun berkumpul, bukan sekadar untuk rapat desa, melainkan menyaksikan langsung demonstrasi sebuah alat sederhana namun penuh manfaat: Alat Tebar Pupuk (ATEP).
Alat ini diperkenalkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Kelompok 27 Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan Universitas Brawijaya. Dengan penuh semangat, mereka tidak hanya menjelaskan konsep teknologi tepat guna, tetapi juga mengajak para petani mencoba sendiri cara merakit, mengoperasikan, hingga merawat ATEP.
Muhammad Fahmi Aldin, koordinator kelompok, menyampaikan bahwa ATEP dirancang untuk menjawab keluhan petani tentang pemupukan manual yang memakan waktu, tenaga, dan sering tidak merata.
“Kami berharap produktivitas kerja petani meningkat, pupuk lebih presisi, dan biaya produksi bisa ditekan,” ujarnya.
Antusiasme petani terlihat jelas. Mereka bergantian mencoba alat tersebut, berdiskusi, bahkan memberi masukan agar ATEP semakin sesuai dengan kebutuhan lapangan. Pemerintah Desa Butoh pun menyambut baik inisiatif ini, menilai bahwa kehadiran teknologi sederhana seperti ATEP dapat mempercepat modernisasi pertanian di tingkat desa.
Di balik kegiatan ini, tersimpan harapan besar: agar inovasi mahasiswa tidak berhenti di ruang sosialisasi, melainkan benar-benar diadopsi oleh kelompok tani. Jika terwujud, Desa Butoh bisa menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara kampus dan masyarakat mampu mendorong peningkatan hasil panen jagung secara berkelanjutan.(Red)

