TEROPONGNUSA.COM | INSPIRATIF – Dibalik kesuksesan seorang tokoh, tak sedikit yang memiliki cerita masa lalu berliku bahkan pilu. Namun hal itu bukan menjadi penghalang untuk mereka dalam meraih prestasi.
Seperti kisah perempuan yang bernama Willis Desima Silih Sani, S.Pd. Pengalaman pahit itu dialaminya tatkala masih menempuh pendidikan di sekolah dasar. Ejekan demi ejekan datang dari temannya yang menjuluki dirinya bagaikan “tiang listrik berjalan” hingga “layangan” dan masih banyak lagi.
Hal itu bukan tanpa alasan, sebab di mata teman-temannya perempuan tersebut dipandang memiliki postur tubuh tinggi yang tidak sebanding dengan seusianya.
Karena manusiawi, ejekan itu sempat membuat Willis Desima Silih Sani sedih. Hari demi hari dilaluinya dan tidak ada cara lain untuk menghindari. Tapi beruntung hal itu mampu dijalaninya hingga tamat sekolah dasar.
Lembaran baru dimulai saat menempuh Pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pengalaman pilu yang dialami tersebut seakan menjadi pemicu untuk meraih prestasi. Apalagi di sekolah yang baru ini terdapat berbagai kegiatan mulai dari pramuka, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Palang Merah Remaja (PMR), hingga Patroli Keamanan Sekolah (PKS).
Tak tanggung-tanggung, semua kegiatan tersebut diikutinya guna menepis julukan yang disematkan ke dirinya. Dan selama 3 tahun di SMP semua kegiatan tersebut aktif dijalaninya, baik saat berkegiatan di dalam maupun luar sekolah.
Lulus dari SMP berlanjutlah ke jenjang SMA. Di samping terus aktif di pramuka, Willis tetap konsisten mengikuti kegiatan lainnya di sekolah hingga pernah masuk seleksi Paskibraka tingkat kecamatan maupun kabupaten.
Dari sekian pengalaman tersebut, sepertinya pramuka telah menjadi pilihan hidupnya yang harus ditekuni. Dan terbukti usai lulus dari SMA Ia mendapat kepercayaan untuk menjadi Ketua Dewan Kerja Cabang (DKC) Kwarcab Magetan.
Upayanya tidak berhenti sampai di situ. Dirinya pun mencoba melebarkan sayap dengan membantu pembina pramuka di tingkat siaga, penggalang dan penegak guna menyalurkan ilmu kepada para yuniornya.

Berbekal pengalaman itulah kemudian Willis tergerak meningkatkan keahliannya di bidang pramuka dengan mengikuti kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) di Magetan dan berkembang ke kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML) Tingkat Jawa Timur di Surabaya.
Setelah itu dalam perjalanan membawanya untuk mengikuti Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Dasar (KPD). Dimana KPD ini adalah sebuah pilihan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan kebahagiaan.
Dan kini Willis pun menganggap pramuka adalah hobinya. Sehingga meskipun telah lulus sekolah kegiatan pramuka tidak ditinggalkannya. Karena menurutnya hobi adalah tempat untuk belajar dalam segala hal yang tidak pernah didapatkan dalam pendidikan keluarga.
Willis pun merasa bersyukur dengan apa yang telah diraihnya hingga membawanya sampai sekarang. Apalagi itu semua dari awal tidak ada dalam rencana hidupnya,
Ia pun berharap masa lalunya yang pilu penuh dengan bullyan tidak terjadi lagi pada anak-anak lainnya. Karena hal buruk itu akan membekas dan membuat trauma dalam kehidupan.
Maka dari itu Willis mengajak semua elemen untuk membangun pendidikan generasi muda sejak dini agar memiliki karakter tahan banting, handal, berjiwa besar serta memiliki jati diri yang baik.(DNY)

