32.8 C
Madiun
Sabtu, Juni 20, 2026

Sekolah Negeri, Antara Kebanggaan dan Kewajiban Membayar

TEROPONGNUSA.COM – Sekolah negeri masih menjadi pilihan utama banyak orang tua di Indonesia. Selain dianggap bergengsi, sekolah negeri juga diyakini lebih ramah di kantong. Harapan besar pun dititipkan: pendidikan murah, bahkan gratis, karena adanya subsidi dari pemerintah. Namun, kenyataan di lapangan sering kali berbeda.

Biaya Bulanan dan Tambahan:
Sebuah sekolah negeri di daerah penulis ini, misalnya, orang tua murid diwajibkan membayar Rp 90 ribu setiap bulan. Biaya ini disebut untuk operasional. Namun, ketika ada kegiatan tambahan, pungutan baru kembali muncul. Untuk kegiatan kemah, setiap anak dikenai Rp 80 ribu. Outing class atau biasa disebut study tour mencapai hampir satu juta. Belum lagi infaq harian dan tahunan yang juga menjadi tanggungan.

Bagi sebagian orang tua, biaya ini terasa seperti beban berlapis. Mereka berharap biaya bulanan bisa menutup semua kegiatan, tapi kenyataannya setiap agenda sekolah tetap menambah daftar tagihan.

Biaya Seragam dan Buku
Selain pungutan bulanan dan kegiatan tambahan, orang tua juga dibebani biaya untuk membeli seragam sekolah saat pertama mendaftar hingga buku lembar tugas atau sering disebut LKS. Seragam biasanya tidak hanya satu jenis, melainkan beberapa set. Akumulasi biaya ini membuat sekolah negeri yang diharapkan murah tetap terasa berat bagi sebagian keluarga.

Surat Tagihan yang Dititipkan ke Anak:
Menjelang akhir tahun ajaran, bagi siswa yang belum melunasi biaya, pihak sekolah mengedarkan surat pernyataan kesanggupan membayar. Ironisnya, surat itu dititipkan kepada anak. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran: anak merasa seperti penagih utang bagi orang tuanya. Psikologis mereka bisa terganggu, seolah membawa beban yang bukan tanggung jawabnya.

Harapan Transparansi:
Meski begitu, orang tua sebenarnya tidak menolak adanya biaya. Mereka memahami bahwa operasional sekolah tidak mungkin sepenuhnya bergantung pada subsidi pemerintah. Yang mereka harapkan adalah transparansi. Bagaimana dana digunakan? Apakah sesuai kebutuhan? Apakah ada pengawasan agar tidak terjadi penyalahgunaan?

Keinginan untuk mengetahui alur keuangan bukanlah bentuk ketidakpercayaan, melainkan partisipasi. Orang tua ingin ikut mengingatkan jika ada penggunaan dana yang dinilai kurang tepat.

Antara Ideal dan Realita:
Sekolah negeri idealnya menjadi tempat belajar yang ramah bagi semua kalangan, tanpa membedakan kemampuan finansial. Namun kenyataan menunjukkan, biaya tetap menjadi tembok yang harus dilalui. Harapan akan pendidikan murah sering kali berbenturan dengan kebutuhan operasional dan kegiatan tambahan.

Penulis: Denny Rubi

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru