31.2 C
Madiun
Sabtu, April 13, 2024

Anak Dua Tahun di Surabaya Tewas Dianiaya Selingkuhan Ibunya

SURABAYA, TEROPONGNUSA.COM – Seorang anak berusia dua tahun berinisial RSH meninggal dunia setelah dianiaya oleh selingkuhan ibunya, RS (27), di sebuah rumah kos di Jalan Kutisari Utara Gang 5 Surabaya, pada Selasa (13/2/2024). Pelaku mengaku kesal karena korban sering rewel dan buang air.

Hal ini diungkapkan oleh Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Hendro Sukmono, dalam konferensi pers di Mapolrestabes Surabaya, Jumat (16/2/2024). Menurutnya, pelaku sudah diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka.

“Pengakuan tersangka saat diperiksa karena korban dianggap sering rewel dan sering buang air,” ujar Hendro.

Ia menjelaskan, kronologi kejadian bermula ketika korban dititipkan oleh neneknya ke RS, yang merupakan pasangan kumpul kebo dari ibu kandung korban, SF. Saat itu, SF sedang bekerja sejak pagi.

Sekitar pukul 16.00 WIB, SF mencoba menghubungi RS melalui video call untuk menanyakan keadaan anaknya, namun tidak diangkat. Ketika ditelepon biasa, RS mengatakan bahwa anak sedang tidur.

Saat SF pulang kerja dan sampai di kos, ia melihat RS sedang tidur bersama korban. Ia curiga karena di samping anak ada kotoran buang air besar, dan anak tidak bisa dibangunkan. Ia juga melihat banyak luka lebam di tubuh anak.

“Kemudian dibangunkanlah pacarnya, dan SF menanyakan kok anak saya lebam dan tidak bangun. Pelaku bilang tidak tahu karena sedang tidur,” kata Hendro.

SF dan RS kemudian membawa korban ke rumah sakit, namun dokter menyatakan bahwa korban sudah meninggal dunia. SF lalu menghubungi SA, suami sahnya yang sudah pisah rumah sejak Januari 2024, dan menceritakan kejadian tersebut.

SA yang tidak terima dengan kematian anaknya, melaporkan kasus ini ke polisi. Setelah melakukan pemeriksaan terhadap nenek, dua orang tua, dan pelaku, polisi berhasil mengungkap pengakuan RS.

“Setelah serangkaian pemeriksaan, nenek, dua orang tua korban, dan pelaku, diketahui pelaku diinterogasi sampai terpojok dan mengakui perbuatannya,” imbuh Hendro.

Berdasarkan hasil visum dan autopsi oleh dokter forensik RSUD Dr. Soetomo, korban meninggal karena dianiaya oleh RS. Pelaku mencekik korban dan membenturkan kepala RSH ke lantai hingga meninggal.

“Yang bersangkutan (RS) mengakui dan kesal anak sering menangis dan buang air dan rewel, akhirnya pelaku jengkel,” terang Hendro.

Hasil autopsi sementara menunjukkan korban mengalami patah tulang tengkorak belakang, pendarahan pada otak dan perut, dan pembekuan darah di jantung.

Atas perbuatannya, polisi menerapkan pasal berlapis untuk pelaku. Mulai Pasal 80 ayat 3 juncto Pasal 76 C UU 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun, dan atau Pasal 338 KUHP ancaman maksimal 15 tahun, dan atau Pasal 340 KUHP dengan ancaman maksimal 20 tahun atau seumur hidup.

Diketahui, korban adalah anak ketiga dari SF dan SA. Sejak pisah rumah Januari 2024, korban sering tinggal bergiliran, kadang ikut sang ayah, dan kadang ikut ibu kandung dengan selingkuhannya.

Peristiwa penganiayaan ini diduga bukan hanya terjadi sekali. Sebelumnya, korban pernah mengalami luka di dahi, tapi pelaku tidak pernah mengakui perbuatannya.

“Kami masih dalami. SA (ayah korban) pernah mendapati anak luka lebam, luka di dahi. SF gak mau ribut dengan RS (pelaku), jadi memilih mengobati anak di rumah sakit,” tuturnya.

Hendro juga menyampaikan, polisi belum melakukan pemeriksaan kejiwaan pelaku untuk memastikan ia sehat atau mengalami gangguan.

“Belum pemeriksaan psikologis. Tapi sejauh ini ketika diinterogasi, pelaku bisa menjawab normal,” tandasnya.(*)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
21,600PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru