27.1 C
Madiun
Kamis, Februari 22, 2024

Asal Usul Blangkon, Penutup Kepala Tradisional Jawa

(Gambar diperankan oleh model)

TEROPONGNUSA.COM,
UNIK
– Membahas tentang sejarah blangkon (penutup kepala tradisional jawa)
tentunya akan panjang jika dibedah. Namun hal itu tidak serta merta menutup
mata kita untuk mengetahui asal usul blangkon itu sendiri.

 

Jadi jika berbicara
tentang sejarah blangkon, di masyarakat Jawa pada zaman dahulu ada legenda Aji
Saka. Di legenda itu, Aji Saka menggelar sejenis kain ikat kepala yang bisa
menutup seluruh tanah Jawa. Nah, dengan kain tersebut dirinya berhasil
mengalahkan sang raksasa penguasa tanah Jawa, Dewata, Cengkar. Meski demikian,
masih belum jelas apakah ikat kepala itu adalah blangkon atau bukan. Akan
tetapi saat ini pria Jawa sudah mulai mengenakan ikat kepala yang bisa
diperkirakan menjadi asal mula blangkon.

 

Di sisi
lain, beberapa teori dan sejarah mencatat bahwa memang ada sejumlah pengaruh
dari budaya Hindu dan Islam yang diserap oleh orang Jawa dalam pemakaian
blangkon. Mereka mendapatkannya dari pedagang Gujarat yang kerap menggunakan
sorban. Kemudian, kebiasaan memakai kain panjang dan lebar di kepala ini pun
mulai diterapkan oleh masyarakat Jawa.

 

Ada pula
teori lain yang mengatakan bahwa blangkon diciptakan berkaitan dengan krisis
ekonomi di zaman dahulu. Saat itu para petinggi keraton lantas meminta seniman
untuk menciptakan ikat kepala yang hanya menggunakan separuh panjang kain dari
biasanya. Karena saat itu kain termasuk sulit didapatkan. Sebelumnya memang
para leluhur kita gemar menggunakan sorban yang kompleks dan membutuhkan kain
yang cukup panjang.

 

Dulu,
seniman adalah sosok yang dipercaya untuk membuat blangkon, dengan
memperhatikan pakem-pakem yang berlaku tentunya. Semakin pakem tersebut
dipenuhi, maka semakin tinggi nilai blangkon tersebut. Selain dari pemenuhan
pakem tersebut, penilaian blangkon juga bergantung pada sejauh mana seseorang
memiliki standar cita rasa dan pemahaman akan etika sosial. Di sinilah lantas
muncul teori bahwa pakem yang berlaku untuk blangkon, tidak hanya harus dipenuhi
oleh para pembuatnya, namun juga para pemakainya.

 

Bentuk
blangkon pun bermacam-macam. Ada yang disebut bergaya Yogyakarta dengan
tonjolan di bagian belakangnya, ada juga yang dibilang bergaya Surakarta dan
biasa disebut sebagai blangkon model trepes. Selain suku Jawa, ada suku-suku
lain di Indonesia yang juga menggunakan ikat kepala yang menyerupai blangkon.
Misalnya suku Sunda, Madura, Bali, dan lain-lain. Namun tentu saja pakem dan
bentuk ikatnya berbeda-beda.

 

Pada
intinya tidak ada yang tahu pasti atau tidak ada yang berani memastikan asal mula
blangkon itu sendiri. Lantas apakah hal itu bisa jadi penghalang kita untuk
mencintai dan melestarikan blangkon? Jawabnya tentu tidak.

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
21,500PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru